Breaking News

Biar Tidak Disuap !!! Kebutuhan Hidup Jurnalis Lokal Harus Cukup


Pati, Tren24jam.com - Rentetan pemberitaan dugaan penyelewengan anggaran negara untuk pembangunan sarana dan prasarana pendidikan yang di publikasikan salah satu media online di wilayah Bumi Mina Tani, sudah selayaknya dijadikan bahan evaluasi aparatur penegak hukum dan dinas terkait agar lebih optimal dalam pengawasan.

Pasalnya, anggaran yang bersumber dari rakyat tersebut harus benar-benar dialokasikan secara tepat dan benar serta mengutamakan sistem transparansi publik.

Anehnya, banyak awak media di Kabupaten Pati yang cenderung diam ketika menyaksikan ketimpangan sosial di masyarakat. Hal tersebut diungkapkan Bintang JB, Kabid Humas DPP BPPI (Sabtu, 05-09-2020) di Jakarta.

BINTANG JB
Kabid. Humas DPP LSM BPPI
"Sebagian dari Awak media di Pati banyak yang di bina oleh pemkab, bahkan mereka di berikan honor perbulan melalui humas Pemkab Pati dengan berbagai dalih dan cara. Lucukan, anggaran negara kok malah diberikan kepada orang-orang seperti itu. Kalau awak media tersebut sudah diakui dan terdaftar di dewan pers sih gak masalah, karena sudah jelas dari segi kredibilitas dan obyektifiasnya." Ucapnya.

Diakui peran media sangat dibutuhkan sebagai sosial kontrol dan penyeimbang dalam jalannya roda pemerintahan. Namun, sebagai jurnalis harus mempunyai SDM yang benar-benar mumpuni.

"Saya amati cuma segelintir awak media di Pati yang berani kritis menyoroti kegiatan pemerintahan, hanya orang-orang tertentu yang kebutuhan hidupnya cukup dan diluar binaan oleh humas Pemkab Pati. Sedangkan yang dibina oleh humas Pemkab Pati, Kebanyakan dari mereka hanya mempublikasikan kegiatan seremonial dan pencitraan pemerintah saja. Alasannya jelas demi gaya dan kebutuhan hidup, sehingga tugas dan fungsi yang disematkan sebagai sosial kontrol tergadaikan dengan materi recehan." Tegasnya.

Tak hanya itu, carut marut persoalan sosial di wilayah Kabupaten Pati, bahkan sama sekali luput dari lensa awak media yang sudah dibina oleh humas Pemkab, entah benar tidak tau atau sudah dapat jatah tutup tangan agar tidak menulis pemberitaan.

"Banyak masalah sosial masyarakat di Pati yang tidak terekspos oleh mereka, padahal jelas nampak dihadapan mata, mulai dari maraknya perjudian, prostitusi, dan menjamurnya caffe karoke. Mungkin mereka sudah dijatah. Apalagi saya pernah dengar ada salah satu oknum wartawan di Pati yang menjadi bagian dari judi togel." Imbuhnya.

Menurutnya, menjadi awak media yang bertugas di Pati harus mempunyai usaha sampingan untuk mencukupi kebutuhan hidup, kalau hanya bergantung kepada profesi jurnalistik tidak menutup kemungkinan pasti dapat disuap.

"Statemen saya ini tidak bermaksud untuk menyinggung siapa saja. Saya juga mengakui masih ada awak media di Pati yang jujur bekerja sesuai fungsi dan tugasnya, karena mereka digaji oleh redaksinya. Tapi yang saya sayangkan ada beberapa awak media online di Pati yang tidak jelas akuntabilitasnya menjadi kaum penjilat yang mau menerima atensi dari praktek kemaksiatan." Pungkasnya. (Tim)